Harap Tunggu

Media - Media Detail

Harga Rumah Dan Material Naik Imbas Perang Iran Israel, Rupiah Melemah!

02 May 2024 - Artikel
Harga Rumah Dan Material Naik Imbas Perang Iran Israel, Rupiah Melemah!

Harga rumah dan material naik imbas perang Iran Israel, mengapa bisa terjadi demikian? Nyatanya, konflik antara kedua kubu turut memberikan dampak bagi negara lain termasuk Indonesia. Terutama, pada sektor yang sangat penting seperti ekonomi.

Meski belum terjadi secara langsung, namun potensi itu tetap saja ada ketika nantinya konflik tidak menunjukkan tanda-tanda akan usai. Hal ini yang turut menjadi perhatian utama para pelaku bisnis tersebut. 

 

Dampak Perang Terhadap Industri Properti di Indonesia

Perang selalu saja memicu imbas berkepanjangan. Dampak perang Iran dan Israel tersebut salah satunya adalah tingginya beban subsidi energi, yang terpicu dari potensi naiknya harga minyak dunia. 

Industri manufaktur yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku produksi lewat proses impor. Jalur dagang vital seperti Selat Hormuz pun terdampak konflik, sehingga pasokan bahan baku mengalami gangguan. Belum lagi, penguatan nilai Dollar AS yang membuat harga juga ikut meninggi. 

Oleh karena itu, kurangnya ketersediaan pasokan dan stok tersebut bisa menjadi ancaman terhadap roda industri Tanah Air. Terlebih, pergerakan logistik yang terpaksa harus berputar arah membuat jaraknya semakin jauh. Bahkan, bisa saja terputus, sehingga biayanya semakin tinggi. 

Berikut adalah potensi dari dampak perang lainnya yang dapat menyasar pada beberapa lini bidang di Indonesia. 

 

Rupiah Melemah, Industri Properti Mulai Bergejolak?

Imbas dari konflik Israel vs Irak, rupiah pun mengalami pelemahan. Bahkan, nilai tukar Dollar AS terhadap Rupiah sempat menembus hingga Rp16.200. Hal ini menimbulkan banyak situasi tidak pasti dan berpotensi memicu kenaikan harga barang di Tanah Air. 

Lantas, bagaimana dengan nasib harga material bangunan yang menjadi bahan baku utama industri properti? Kondisi tersebut memang memicu ketidakpastian, termasuk harga minyak dunia yang meninggi. Jika konflik ini terus tidak berkesudahan, maka dikhawatirkan akan memicu tingginya banderol harga di sektor properti. 

Industri ini juga membutuhkan bahan bakar berupa minyak untuk mendukung produksi. Sementara, dengan adanya tekanan pada biaya tersebut, mendorong adanya kenaikan pada bahan baku. Alhasil, pengusaha pun harus dapat mengatasinya dan menata ulang demi menyesuaikan daya beli masyarakat. 

Dalam hal ini, industri seperti pabrik juga berpotensi mengalami peningkatan harga. Pasalnya, industri ini banyak menggantungkan pada suplai bahan bakar, listrik atau komponen yang rentan semakin mahal imbas adanya perang. Bahan yang dimaksud adalah kaca, baja ringan, besi, cat dan masih banyak lagi. 

Salah satu sektor yang sangat sensitif terdampak tingginya nilai tukar Dolar AS adalah produk berasal dari impor. Adapun bahan dari lokal bisa saja terimbas pada kondisi tersebut. Terutama, jika terjadi pelemahan rupiah dalam waktu yang lama. 

Bahan bangunan macam granit, keramik, marmer, alat perkakas hingga perlengkapan dapur juga dapat terpengaruh fluktuasi pada nilai tukar Dolar tersebut. Demikian juga dengan komponen lain seperti finishing lampu, gagang pintu termasuk alat penunjang interior rumah. 

Semua itu dapat berpengaruh pada industri pengembangan properti. Terlebih ketika lini bisnis tersebut menggunakan bahan baku berupa barang impor kelas tinggi. Misalnya, apartemen atau hunian mewah. Kemudian, bahan seperti besi dan baja mengikuti nilai pasar di luar negeri. Padahal bahan tersebut menjadi barang baku untuk pelaksanaan proyek hunian. 

 

Harga Rumah Berpotensi Naik 

Sementara itu, kalangan pebisnis mengisyaratkan adanya kenaikan harga properti, termasuk hunian baru. Hal ini bisa terjadi lantaran ongkos biaya bahan baku juga mengalami peningkatan. 

Meski begitu, bukan berarti para pelaku bisnis atau pengembang dapat dengan seketika menaikkan banderol properti. Sebelum melangkah ke arah tersebut, mereka akan melakukan beberapa langkah agar tetap bisa melakukan efisiensi. 

Konflik akan berpengaruh terhadap minyak yang konteksnya mengarah ke ongkos logistik. Ketika biaya sudah naik 10 persen atau 15 persen, maka akan ada langkah penyesuaian, termasuk lewat efisiensi. Kemungkinan besar, hal tersebut akan terjadi ketika konflik berlangsung hingga 3 bulan lamanya. 

Sejauh ini, imbas dari perang memang belum begitu dirasakan oleh developer. Hanya saja, demi mengantisipasi apabila ketegangan di kawasan Timur Tengah belum mereka, maka perlu ada langkah tersendiri. Sebab, perang sulit untuk diprediksi kapan akan berakhir. 

Perang kedua negara tersebut bukanlah hal yang bisa diduga. Namun yang pasti, akan berpengaruh pada pergerakan ekonomi di Tanah Air. Developer bisa saja terimbas, terutama ketika bahan baku dari impor semakin menipis. 

 

Harga Material IKN Berpotensi Ikut Naik

Dampak lain konflik Iran-Israel yang juga bisa saja terjadi adalah kenaikan bahan baku material untuk pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) Nusantara. Sebab, ada suplai bahan yang berasal dari luar negeri. 

Satgas Pembangunan Infrastruktur IKN mengatakan, ada kemungkinan imbas tersebut terasa secara tidak langsung. Hanya saja, mereka sudah melakukan beberapa langkah identifikasi. Kemudian, mengkaji imbas konflik perang terhadap bahan material bangunan pada IKN. 

Adapun biaya material sudah tercantum pada kontrak yang disepakati pemerintah. Total keseluruhan nilai kontraknya adalah mencapai kisaran angka Rp70 triliun. Namun, sejauh ini pemerintah mengklaim kontrak tersebut masih aman, meski tetap akan mengamati perkembangan yang terjadi. 

Seperti diketahui, akibatnya memanasnya Iran dan Israel, membuat nilai tukar Rupiah menukik hingga Rp16 ribu per Dolar AS setelah Lebaran lalu. Hal tersebut terjadi lantaran investor dan pasar mengalihkan investasi dari aset Rupiah yang cenderung beresiko ke Dolar AS hingga emas.

Kondisi tersebut tentunya telah memberikan tekanan kepada para pelaku bisnis. Sebab, situasi tersebut dapat mendongkrak ongkos bahan baku di lini industri seperti properti. Yang kemudian pada akhirnya dapat memicu kenaikan biaya produksi keseluruhan. 

 

Kesimpulan

Perang antar negara di wilayah yang penting seperti Timur Tengah bisa memicu satu konsekuensi  yang tidak diharapkan namun akan selalu terjadi, yakni kenaikan harga minyak dunia.

Pertikaian ini memiliki konsekuensi dan dampak yang luas di seluruh wilayah geografis, perekonomian, dan sektor-sektor di pasar obligasi meskipun bersifat sementara. 

Harga obligasi akan turun, biaya kredit bagi perusahaan akan naik. Kemudian, harga minyak mentah akan naik dan pasar saham akan turun. Keduanya disebabkan oleh berkurangnya profitabilitas sektor korporasi dan meningkatnya ketidakpastian.

Penurunan pasokan minyak yang berkelanjutan dan melonjaknya harga minyak mentah akan meningkatkan inflasi dalam negeri. Bahkan, suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka panjang. 

Meski belum ekstrim, namun sinyal harga rumah dan material naik imbas perang Iran Israel patut diwaspadai. Sejauh ini, belum ada kenaikan besar-besaran terhadap ongkos pembangunan dan berdampak pada banderol rumah.

Selagi situasi masih aman, ada baiknya Anda juga mengamankan kepemilikan aset dengan mendapatkan properti hunian yang ideal. Wiraland menghadirkan unit ideal dengan pilihan harga terjangkau. Namun, kualitasnya tetap dapat dipertanggungjawabkan.

Kunjungi situs resmi wiraland.com untuk mendapatkan informasi seputar ketersediaan unit. Dapatkan penawaran harga terbaik, dan miliki segera hunian impian Anda.

Realated Media

Tidak ada artikel terkait

Project Kami

Lihat Semua